Showing posts with label Cermin. Show all posts
Showing posts with label Cermin. Show all posts

Perih

Monday, 25 November 2013


kita sama-sama tahu tentang sakit,
pilu yang menyayat sukma di tengah malam
dan sepi yang menggerogoti hati

sunguh aku tidak ingin melayang bersama bayangmu
yang kubutuhkan hanya genggaman tanganmu,
sebagai bukti bahwa kau itu nyata
daripada harus menunggu kabar yang takpasti
atau terbuai ilusi indahmu

menunggumu adalah perih,
perih yang kunikmati walau akhirnya aku hancur
membangun kesabaran dengan air mata
menjadi tegar di hadapan mentari
                                                            
mengharapkanmu adalah perih
dan perih itu menjadi takdir
menghempaskan aku kedalam jurang tanpa ujung


Lhokseumawe, 24 November 2013
Cermin


(hanya) kebetulan



Seperti medapat hal yang pernah dimimpikan, tapi begitu dapat aku malah tak mengharapkannya. Aku benci dengan situasi ini, memangnya salah? Toh kali ini aku tak berharap demikian. Mungkin lebih baik aku menjauh untuk sementara waktu, gerah juga rasanya selalu terjebak pada situasi yang sama setiap harinya. Begitu sulit tuk memahami, sehingga bukannya dekat, malah terasa semakin jauh.
Kali ini seperti masa lalu yang terputar, namun dengan keadaan yang berbeda, pemeran yang berbeda, hanya masalahnya yang mungkin sama. Aku tak tahan hanya memandangi dengan mimpi yang menggantung di atas kepalaku.
Percakapan-percakapan yang tak bisa kumengerti. Padahal harusnya aku yang tahu, hanya AKU. Kenyataannya ialah aku tak bisa mengetahui apa yang ingin kuketahui. Ada semacam jurang diantara aku dan dia.
Keluar dari duniaku, selalu memakai topeng yang sama, bertingkah yang sama. Aku tak biasa membebankan masalahku ke orang lain, semua kutanggung sendiri. Aku membenci senja yang dulu kucintai, aku membenci malam yang memenjarakanku dalam tangis. Sepi yang membuatku iri pada mereka. Mereka bahagia, tapi aku tidak. Aku juga ingin seperti mereka, tapi tidak pernah kudapatkan. Demi menghibur diri, terpaksa kuciptakan kebahagiaan semu dari mimpi dan khayalan yang terindah yang tidak mungkin terjadi.
Ah, ini semua hanya kebetulan saja bukan??



Alue Awe, 22 November 2013
Cermin

Bisakah (?)

Thursday, 21 November 2013

Bisakah aku menahanmu?
hanya untuk sekejap menyesap anggur dari hatimu
Suatu waktu dalam irama hujan, aku menemukan diriku di sudut dimensi yang lain
Sedang memeluk mimpi, entah sampai kapan
menunggu dirimu dalam ilusi

Kekecewaan ini membutakan mataku
Aku lebih memilih untuk hidup dalam mimpi,
 oleh karena itu ‘tak perlu bangun untuk melihatmu menghilang
Tentu saja tak mudah membekukan api yang menjalar
Atau menghilangkan semua duri mawar
atau mengubah takdir


Bisakah aku tak mengenalmu?
bagiku ini lebih baik daripada mengiris sepi di tengah malam
Atau mengharap pada angin membawamu kembali


Bisakah aku melawan takdir?
Walau setelah itu, aku akan melumat luka dan menetesinya dengan cuka
Hanya untuk melupakan apa yang terjadi
Dan aku tetap disini, menunggu kabar dari angin
Entah sampai kapan



Alue Awe, 21 November 2013
Cermin

Sajak Abu-Abu

Wednesday, 13 November 2013
Kuteguk secangkir rindu dalam mabuk
Kukutuk waktu yang meninggalkanku sendiri
Dalam samar aku mencari sosok
Meraba jalan walau dipermainkan oleh rasa
Huruf –huruf berlompatan dalam kepalaku
Berebut menyusun diri menjadi kata

Ada yang hilang dalam hampa
Di setiap lorong tanpa cahaya
Tersesat oleh labirin-labirin tanpa makna
Saat cahaya adalah mimpi yang indah
Saat itu pula kau hilang bersama kabut

Mereka benar,
Gigil ini begitu dingin dan menyakitkan
Menusuk tanpa ampun berkali-kali
Lalu ia pergi seakan tak pernah kembali
Namun ia terus menghantui dalam mimpi

Kuteguk lagi secangkir rindu dalam mabuk
sambil tetap mengutuk waktu
dibawah langit abu-abu



Ruang 12, Alue Awe
13 Nopember 2013

Mirror (part 2)

Wednesday, 16 October 2013

Hei, kurasa kau telah jauh melangkah. Ini bukanlah jalanmu. Ayo kembali, menjadi dirimu yang dulu tegar dan penuh semangat. Sejak kapan kau lemah begini? aku 'tak sanggup melihat dirimu yang seperti ini. kau yang sekarang bukanlah kau yang kukenal.

Memangnya kenapa, hah?! Toh, tak ada yang mau mendengarkan aku sekarang. Aku sudah terlanjur masuk, dan 'tak akan bisa keluar. ahahaha! Ini lebih baik daripada menggantung harapan tak jelas atau menitip rindu pada kekasih yang entah nyata atau tidak

Tidak, kau tidak seperti itu. Kau selalu bisa menyelesaikan masalah dengan tenang. Kau yang setiap hari bercerita tentang birunya langit dan hijaunya rerumputan di taman rahasiamu itu. Kau yang selalu bisa keluar dari tempat yang tak seharusnya kau berada. Dimana dirimu yang itu?

Ahh! omong kosong! itu masa lalu. sekarang aku bahagia dengan jalan ini walau hanya sesaat. Bayangan ini lebih tampak bersahabat daripada terus menjaga kuncup-kuncup bunga itu! Aku muak dengan semua yang ada disekitarmu, pada orang-orang tak aku tak tahu dimana wajah aslinya!

Itukah alasanmu? Sadarlah! kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Jalan yang kau lalui itu hanyalah ilusi yang terus membayangi dirimu jika kau 'tak segera kembali. Dimana terakhir kali kau tersenyum? tunjukkan padaku sekarang. Mungkin kita bisa kembali kesana dan membuatmu merasa lebih baik. Ayo, ikut aku...

TIDAK AKAN!!!! ENYAHLAH KAU!!


PRAANGGGG!!!!




Blang Raya, 23 Agustus 2013
Cermin
Top of Form

Bottom of Form

Ratu Dunia

Thursday, 11 July 2013

para ratu berkumpul dari seluruh pelosok negeri
melangkah dengan anggun 
mereka berkata tentang intelejensi tingkat tinggi
tentang kebaikan hati bak peri
kecantikan yang menyaingi bidadari
demi sebuah mahkota yang berkilauan di mata mereka

namun, apa kata bumi
untuk apa kalian berada disini?
aku masih saja tandus
setiap malam telingaku di penuhi tangis anak tanpa ayah
tubuhku disedot oleh mesin-mesin
kemudian debu-debu liar berterbangan
menghilangkan semua kilauan mahkota
dan para ratu itu terdiam



Lhokseumawe, 19 Juni 2013
Cermin

Cuma Waktu


hari ini kau mengeluh
tentang waktu yang tak bersahabat
yang tergesa-gesa meninggalkanmu
seolah hari ini tak cukup untukmu  melepas rindu
dan kemudian, kau kembali mengeluh
tentang waktu yang tak kunjung tiba
kau bosan menunggui malam
penat menanti

ini hanya maslah waktu, kataku
cuma waktu


Lhokseumawe, 18 Juni 2013
Cermin